habitus 

Dalam perkembangan diskursus ilmu dan teori sosiologi,
teori yang diperkenalkan oleh Bourdieu cenderung baru dan segar dalam tujuannya
sebagai suatu pendekatan dalam melihat tingkah laku dan peran individu di masyarakat
(ranah sosial). Teori habitus yang diajukan oleh Bourdieu  bukan disebabkan oleh perubahan besar
sebagaimana pemikiran sebelumnya yang lebih melihat pertautan antara
mikro-makro dengan agensi dan struktur secara sejajar. Akan tetapi disebabkan
atau berdasarkan studi yang mendalam dan penelitian-penelitian yang dilakukan
Bourdieu di daerah Kabylie dan Collo, Aljazair. Alhasil, ia melihat ada
perbedaan yang signifikan dalam pertautan antara makri-makro dan hubungannya
antara agensi dan struktur.[1]
Dalam pandangannya tersebut , Bourdieu berasumsi bahwa agen tidak melulu
mengacu pada level mikro melainkan agen juga bisa mengacu pada level makro atau
kolektif yang bergerak. Seperti yang dikatakan oleh Burns yang melihat agen
dapat meliputi individu, kelompok yang terorganisir dan juga bangsa. Dari
konteks inilah Bourdie membangun teori habitus untuk memadukan antara agen dan
struktur.

Pada awalnya, Bourdieu adalah seorang penganut
strukturalisme yang taat, namun ketika ia terlibat dalam studi etnografi
terhadap komunitas-komunitas petani di daerah yang ia teliti di atas, Bourdieu
melihat keterbatasan dalam konsep strukturalisme. Teori habitus yang ia bangun dimaksudkan untuk
melewati batas-batas oposisi yang telah terstruktur dalam teori-teori ilmu
sosial seperti subjectivisme dan objectivisme, mikro dan makro, constructivisme dan déterminisme serta stuktur dan agensi. Teori tersebut mempunyai
tiga kata kunci yaitu Habitus (Habitus), Arena (Champ) dan Modal
(Capital).[2]

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Secara sederhana ketiga kata kunci di atas saling berhubungan dan berkaitan satu sama lain, ini dapat dilihat dengan makna dan tujuan
masing-masing konsep. Dalam pemahaman secara singkat, habitus dapat diartikan
sebagai “struktur mental atau kognitif” yang dengannya orang berhubungan dengan
dunia sosial baik secara individu maupun kelompok. Dalam membangun hubungan
atau interaksi sosial setiap agen tidak akan bisa lepas dari ruang sosial
(ranah). Begitu pula agar setiap agen dapat diterima dalam ranah sosialnya, ia
harus memiliki modal yang cukup sesuai dengan syarat penerimaan secara sosial.  Kapital atau modal ini menurut Bourdieu
terdiri dari banyak aspek dan tidak hanya terbatas pada ekonomi saja akan
tetapi bisa melingkupi budaya, politik, gender, seni dan aspek lainnya.
Individu yang memiliki kapital lebih besar cenderung akan lebih mengusai ranah
sosialnya. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan individu lain yang memiliki
kapital lebih kecil dapat menguasai ranah sosialnya karena setiap arena
membutuhkan kapital yang berbeda dan tidak selalu sama dengan mayoritas  atau hanya terbatas pada apa yang disebutkan
oleh Marx.

Untuk memahami lebih rinci terkait ketiga kata
kunci dari teori Bourdieu di atas dan sekaligus untuk menampilkan keterkaitan
satu sama lain secara mendalam, peneliti membuat analisa dan pembahasan
ketiganya secara terpisah dalam bentuk hirarki yang saling berkesinambungan. Pembahasan
yang mendalam terhadap teori ini akan dapat memudahkan peneliti dalam memahami
objek penelitian yang berfokus pada peran santri dalam pembuaan kebijakan
publik.

[1]
George Ritzer, Teori Sosiologi, Dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan
Terakhir Postmodern, (Jakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 852

[2]
Abdurrohman  Nugroho, Teori Habitus
Pierre Bourdieu, diakses pada tanggal 10 Desember 2017:
https://www.academia.edu/33077741/Teori_Sosiologi_Pierre_Bourdieu

x

Hi!
I'm Carol!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out
x

Hi!
I'm Nicholas!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out